Foto : Kondisi bendungan Pacar di Tulungagung yang ambrol, diduga karena termakan usia. (ist)
TULUNGAGUNG |JATIM TERKINI – Bendungan Pacar di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ambrol pada Selasa (25/8). Bendungan yang telah berdiri puluhan tahun itu diduga mengalami kerusakan pada bagian bawah konstruksi hingga akhirnya tidak mampu menahan beban.
Ambrolnya bendungan tersebut sempat membuat warga di sekitar lokasi panik. Saat kejadian, sejumlah warga diketahui tengah memancing di sekitar bendungan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Tim Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas menerima laporan mengenai ambrolnya Bendungan Pacar sekitar pukul 13.30 WIB.
Andri Setiawan dari BBWS Brantas mengatakan, sebelum bendungan roboh, warga sempat mendengar suara retakan. Tak lama kemudian, struktur bendungan mulai bergeser hingga akhirnya ambrol.
“Perkiraan pukul 13.30 WIB mulai terjadi pergeseran struktur bendungan. Tadi juga terdengar suara retakan sebelum ambrol. Untungnya tidak ada korban,” kata Andri, Rabu (26/8).
Bendungan Pacar sendiri diketahui telah berusia lebih dari 30 tahun. Selama berdiri, bangunan tersebut beberapa kali mendapatkan perbaikan. Namun, renovasi yang dilakukan sebelumnya masih dalam skala kecil.
Sebelum peristiwa ambrol, BBWS Brantas sebenarnya telah menerima laporan terkait sejumlah kerusakan yang terjadi pada bendungan tersebut. Petugas bahkan berencana melakukan investigasi untuk mengetahui kondisi dan tingkat kerusakan konstruksi.
Namun, investigasi belum sempat dilakukan, Bendungan Pacar justru lebih dulu ambrol.
“Laporan jika Bendungan Pacar mengalami kerusakan ini sudah kami terima dan kami masih berencana melakukan investigasi. Tapi sebelum pekerjaan dimulai, dam sudah lebih dulu ambrol,” ungkapnya.
Hingga kini, BBWS Brantas masih melakukan pendalaman untuk memastikan penyebab pasti robohnya Bendungan Pacar. Dari pemeriksaan awal, ditemukan adanya kerusakan atau kondisi keropos pada bagian bawah bendungan.
Ambrolnya Bendungan Pacar juga berdampak langsung terhadap sektor pertanian. Pasokan air untuk mengairi lahan pertanian di sejumlah desa kini terganggu.
Lima desa yang terdampak langsung yakni Desa Pelem, Wates, Pojok, Tanggung, dan Ngranti. Secara keseluruhan, bendungan tersebut memiliki fungsi penting untuk mengairi lahan pertanian seluas sekitar 935 hektare yang tersebar di sembilan desa.
“Kami masih melakukan penanganan dan pendataan lebih lanjut terkait dampak ambrolnya bendungan,” pungkas Andri.
Kini, perhatian utama diarahkan pada upaya penanganan kerusakan serta memastikan pasokan air bagi ribuan hektare lahan pertanian di wilayah terdampak tetap dapat terpenuhi. (nas)










Komentar