Kemarau Mulai Terasa, Sejumlah Sawah di Tulungagung Alami Kekeringan

Rabu, 29 Juli 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Suyanto. (nas)

TULUNGAGUNG | JATIM TERKINI – Musim kemarau 2026 mulai menunjukkan dampaknya terhadap sektor pertanian di Kabupaten Tulungagung. Sejumlah lahan persawahan di beberapa kecamatan mengalami kekeringan ringan. Meski demikian, kondisi tersebut dipastikan belum sampai mengakibatkan gagal panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Suyanto mengatakan, berdasarkan pendataan hingga awal Juli, kekeringan terjadi di lahan pertanian Desa Campurdarat dan Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, masing-masing seluas dua hektare. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Wates dengan luasan terdampak sekitar dua hektare.

“Ini salah satu wilayah yang setiap tahun memang menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau,” ujarnya, Rabu (29/7).

Sebelumnya, pada Juni lalu, kekeringan juga melanda lahan pertanian di Desa Ngebong seluas dua hektare serta Desa Suwaloh, Kecamatan Pakel, seluas lima hektare. Namun, kondisi tersebut telah berhasil diatasi melalui program pompanisasi sehingga pasokan air kembali mencukupi.

Mengantisipasi meluasnya dampak kemarau, Dinas Pertanian berencana kembali mengoperasikan pompanisasi di sejumlah titik yang mulai mengalami penurunan debit air pada akhir Juli ini.

Menurut Suyanto, intensitas musim kemarau diperkirakan meningkat pada Agustus mendatang. Beberapa wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan antara lain Kecamatan Tanggunggunung, Pucanglaban, dan Sendang.

Ia menjelaskan, petani di wilayah perbukitan umumnya sudah memiliki strategi menghadapi musim kemarau. Saat pasokan air tidak mencukupi, mereka memilih tidak menanam padi dan beralih ke tanaman yang lebih tahan kering, seperti jagung.

“Biasanya kalau tidak ada hujan mereka memilih tidak menanam padi. Dampaknya musim tanam Oktober sampai Maret bisa bergeser. Petani di wilayah atas umumnya mengganti dengan jagung,” jelasnya.

Hingga saat ini, seluruh lahan yang terdampak masih berada pada kategori kekeringan ringan dan belum dilaporkan mengalami puso atau gagal panen. Dinas Pertanian mengimbau petani menyesuaikan pola tanam dengan kondisi cuaca serta memanfaatkan fasilitas pompanisasi agar kebutuhan air tanaman tetap terpenuhi selama musim kemarau. (nas)

Berita Terkait

Uwi Ungu Tumbuh Subur, Polsek Wates Intensif Lakukan Pendampingan untuk Dukung Ketahanan Pangan
Luas Lahan Tebu Tulungagung Bertambah, Program Bongkar Ratoon Digenjot untuk Swasembada Gula
Antisipasi El Nino, Pemkab Tulungagung Tunggu Bantuan Pompa Air dari Kementan
Panen Raya Padi di Podorejo, Harga Gabah Tembus Rp 7.500 per Kilogram

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 10:46

Kemarau Mulai Terasa, Sejumlah Sawah di Tulungagung Alami Kekeringan

Rabu, 10 Juni 2026 - 13:18

Uwi Ungu Tumbuh Subur, Polsek Wates Intensif Lakukan Pendampingan untuk Dukung Ketahanan Pangan

Sabtu, 23 Mei 2026 - 15:16

Luas Lahan Tebu Tulungagung Bertambah, Program Bongkar Ratoon Digenjot untuk Swasembada Gula

Senin, 27 April 2026 - 19:33

Antisipasi El Nino, Pemkab Tulungagung Tunggu Bantuan Pompa Air dari Kementan

Senin, 27 April 2026 - 19:26

Panen Raya Padi di Podorejo, Harga Gabah Tembus Rp 7.500 per Kilogram

Berita Terbaru