Foto: Ketua PMI Jawa Timur, Imam Utomo, memberi sambutan pada pelantikan pengurus PMI Tulungagung. (afif)
TULUNGAGUNG | JATIM TERKINI – Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Tulungagung terus dipacu untuk menaikkan standar pelayanan dan kualitas darah. Target utamanya adalah mengamankan sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Langkah strategis ini dinilai krusial demi menjamin mutu, keamanan, dan kelayakan darah yang akan ditransfusikan ke pasien maupun diolah sebagai bahan baku produk turunan plasma.
Pesan bernada dorongan tersebut ditegaskan langsung oleh Ketua PMI Jawa Timur, Imam Utomo, di sela pelantikan Pengurus UDD PMI Tulungagung periode 2026–2031 pada Rabu (17/6). Mantan Gubernur Jatim dua periode itu menitipkan empat poin penting yang wajib menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi jajaran pengurus baru.
“CPOB ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan kualitas darah. Ini bukan sekadar urusan administrasi, melainkan menyangkut keselamatan nyawa pasien,” tegas Imam Utomo.
Menurut Imam, dengan mengantongi sertifikasi CPOB, seluruh rantai proses pengelolaan darah di Tulungagung akan memenuhi standar ketat nasional. Mulai dari fase pengambilan (sampling), pengolahan, hingga distribusi ke tangan pasien.
Tak hanya urusan teknis medis, Imam juga menyoroti soliditas internal organisasi. Ia meminta pengurus memperkuat sinergi dan kompak dalam menjalankan misi kemanusiaan. Baginya, keberhasilan PMI tidak melulu diukur dari menterengnya program kerja, melainkan dari komitmen pelayanan di lapangan.
Selain itu, kapasitas relawan juga tak luput dari perhatian. Sebagai ujung tombak pelayanan, keterampilan dan pemahaman relawan harus terus di-upgrade. Salah satu sektor yang diinstruksikan untuk segera digenjot adalah regenerasi relawan di tingkat pelajar melalui Palang Merah Remaja (PMR).
Imam blak-blakan menyebut eksistensi PMR di sekolah-sekolah saat ini masih belum optimal. Ke depan, ia menargetkan setiap sekolah minimal memiliki satu gugus PMR yang aktif dan terorganisasi dengan baik.
“Relawan remaja di sekolah ini belum berjalan maksimal. Idealnya, satu sekolah punya satu gugus PMR yang aktif dengan anggota berkisar 40 sampai 50 siswa,” urainya.
Dengan nakhoda dan kepengurusan yang baru, PMI Tulungagung diharapkan menjelma menjadi lembaga yang semakin profesional, responsif, dan terpercaya. Terutama dalam memastikan ketersediaan darah yang aman, berkualitas, dan berbasis standar nasional di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.
Reporter : Nasrul K.







